Rektor Universitas Moestopo, Prof. Dr. H. Paiman Raharjo, M.M., M.Si. : Menganalisis Perilaku Pemilih yang Terdokumentasi Melalui Data Online dan offline, Kampanye dapat Menyusun Pesan yang lebih Relevan

Dody Zuhdi
0

 



 


 


MDATA ANALYTIX: Big Data akan Menjadi Kunci di Pemilu 2024


JAKARTA - Pemilu, sebagai pilar utama dalam sistem demokrasi, telah mengalami transformasi luar biasa berkat peran yang semakin meningkat dari Big Data (mahadata). Karena itulah Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Mendirikan Lembaga Riset terkait Big Data Bernama MDATA ANALYTIX.



MDATA ANALYTIX merupakan Laboratorium Analisis pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) yang Mengkaji Persoalan-persoalan Ekonomi,  geopolitik, pertahanan dan keamanan, budaya, serta pemerintahan global dengan mengembangkan pemanfaatan analisis big data. Lab ini didirikan atas dasar visi bahwa pemanfaatan big data adalah sebuah keniscayaan di masa depan.




"MDATA ANALYTIX ini lahir karena kesadaran bahwa dalam era di mana informasi adalah kekuatan, penggunaan big data telah membuka peluang baru untuk meningkatkan akurasi pemilihan, mendorong partisipasi publik, dan mengoptimalkan strategi kampanye politik," jelas Kepala Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Moestopo, Nadirah, S.Sos, MA.


Hal senada ditegaskan pula oleh Rektor Universitas Moestopo, Prof. Dr. H. Paiman Raharjo, M.M., M.Si. yang mengatakan bila Penggunaan Big Data dalam Pemilu Memungkinkan para Kandidat dan Partai untuk Merancang Kampanye yang lebih Terfokus dan Personal. 


"Dengan Menganalisis Perilaku Pemilih yang Terdokumentasi melalui Data Online dan offline, Kampanye dapat Menyusun Pesan yang lebih Relevan dan menjangkau pemilih potensial dengan cara yang lebih efektif,"ujar Prof. Paiman menjelang diskusi bertema 'Politik di Era 5.0: Peran Mahadata dalam Pertarungan Politik di Indonesia' di Universitas Moestopo, Rabu (15/11).


Pada diskusi tersebut, tim MDATA ANALYTIX juga memaparkan hasil riset mereka yang merangkai keterkaitan antara penggunaan media digital, profil pemilih, dan ketertarikan politik di Indonesia.


Dari penelitian tersebut terungkap bila penggunaan media digital dalam politik mampu memberi efek positif seperti kecepatan penyebaran informasi, targeting yang semakin spesifik, hingga biaya kampanye yang makin bisa direduksi.


Big data memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang preferensi dan kekhawatiran pemilih. Melalui analisis data yang teliti, kandidat dapat mengidentifikasi isu-isu kunci yang penting bagi pemilih dan merancang platform kampanye yang lebih sesuai.


"Big data mampu menganalisis sentimen melalui dunia digital yang memungkinkan kandidat untuk memahami perasaan dan pandangan masyarakat secara real-time. Ini dapat membantu dalam menyesuaikan pesan kampanye untuk merespons isu-isu terkini," kata Koordinator Riset MDATA ANALYTIX, Andre Ardi.


Namun, ada pula efek negatif dari penggunaan media digital dalam dunia politik yakni merebaknya hoaks dan disinformasi, hingga pembelahan sosial yang mungkin terjadi.


Andre Ardi lalu memaparkan case study yang diteliti oleh MDATA ANALYTIX yakni kampanye yang dilakukan oleh calon anggota legislatif dari Partai Nasdem, Willy Aditya. Penelitian dibagi dalam dua hal yakni Social Engineering yang meneliti trend analysis, DNA analysis, dan spatial analysis, serta Social Netwok Analysis yang meneliti berbagai hal seperti TV analysis, psychoanalysis, social media psychoanalysis, dan geographic information system mapping. 


Menurut Data Acquisition Team MDATA ANALYTIX, Danny K. Wibisono, S.T riset tersebut menghasilkan peta radar kekuatan kandidat pada dapil tersebut mulai dari jejaring pendanaan, jejaring sosial, dan kapabilitas kandidat. 


Hasilnya, Willy yang bertarung di daerah pemilihan Jawa Timur XI akan mendapat perlawanan kuat dari kandidat lain seperti H. Syafiuddin, H Baddrut Tamam, Abu Hasan, R.H. Imron Amin, Said Abdullah, Slamet Riyadi, dan Achmad Baidowi.


"Tapi dibanding lawan-lawannya, Willy Aditya unggul di jejaring sosial, terutama di media sosial. Dari penelitian-penelitian kami berkaitan dengan big data, didapati kenyataan bahwa big data saat ini merupakan hal yang tidak bisa dihindari dan bahkan menjadi kunci pada pertarungan politik ke depannya," papar Danny.


Sementara pada peta DNA yang dihasilkan penelitian ini didapati bahwa Willy Aditya adalah individu yang memiliki pemikiran pragmatis dan berkemampuan memahami konsep yang abstrak. 


Willy Aditya, menurut DNA Character Team MDATA ANALYTIX Irendra Radjawali, Ph.D, memiliki pola pikir konseptual yang mampu mendalami konsep-konsep kompleks. Kekuatan sejati data analisis terletak pada kemampuannya berpikir secara holistik dan melihat persoalan dari perspektif yang luas dan menguraikannya menjadi lebih mudah dimengerti.


Melihat hasil penelitian awal ini, Irendra Radjawali mengatakan kalau data bisa menjadi informasi yang akan berkembang menjadi pengetahuan dan menjelma menjadi pemahaman.


"Percayalah dengan data presisi dapat membantu kita melihat ke depan dan di implementasi pada kegiatan yang lebih pasti untuk mendapatkan hasil ke depan yang diharapkan. Karena itulah MDATA ANALYTIX tidak hanya akan memproduksi hasil kajian dan rekomendasi tetapi memproduksi pengetahuan bersama," pungkas Irendra Radjawali yang juga merupakan Associate Professor di Kyoto University.(rilis/DOD)



Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)