JANGAN KECIL HATI

Dody Zuhdi
0

 




_Ilmu hikmah_


Wayan Supadno



Tadi pagi, saya kedatangan tamu kesemuanya 3 orang dan kesemuanya lulusan pascasarjana. Master, S2. Saya sambut gembira karena mereka antusias tinggi, usia juga belum ada yang 30 tahunan. Idealisnya tinggi semua.


Diskusi menarik dan kritis, tapi juga edukatif. Nampak sekali mereka manusia usia muda yang terdidik, terpelajar, punya wawasan luas dan tanpa mau banyak mereduksi kontribusi pihak lain. Kelihatan sekali punya tanggung jawab tinggi terhadap masa depan negeri ini.


Walaupun awalnya tanpa memperkenalkan alumni kampus mana. Saya bisa menebak pasti mereka alumni kampus favorit. Ternyata betul. Mereka alumni kampus PTN ternama masuk 4 besar terbaik di Indonesia. Bisa saya rasakan kualitasnya.


Saat lebih lama sedikit, mereka menyampaikan maksud tujuannya ketemu saya. Minta masukan sebaiknya jadi profesional karyawan atau pengusaha. Saya jawab singkat saja. Sama saja keduanya, mulia semua. Keduanya penting.


Lalu saya kisahkan beberapa sahabat saya. Yang jadi profesional, jadi rebutan para pengusaha pemilik perusahaan papan atas. Lomba berani pasang tarif gaji lebih tinggi dari lainnya. Plus segala fasilitasnya yang merangsang agar tertarik gabung.


Saat ini posisinya jadi GM (General Manajer) membawahi kebun dan 2 pabrik kelapa sawit (PKS). Seingat saya, 1 tahun silam take home pay Rp 50 an juta/bulan. Tapi saat ini saya dengar sudah Rp 70 an/bulan, di perusahaan lain lagi. Karena terpercaya.


Prestasinya hebat tanpa perlu banyak iklan maupun promosi ke mana - mana. Tapi para Big Boss Sawit pada tahu namanya. Itu terpenting. Populer pada " ceruk pasar " dirinya saja. Tanpa perlu dikenal luas multi segmen pasar publik. Tidak penting.


Ilmu hikmahnya, bahwa jadi profesional juga bisa jadi insan legendaris. Mampu mengubah kinerja perusahaan besar membawahi ribuan tenaga kerja. Makin produktif dan dicintai oleh masyarakat sekitarnya. Berjasa besar jadi komandan lapangan.


Lalu saya kisahkan juga, bahwa banyak sahabat saya ada yang dapat warisan banyak dan ada pula tanpa warisan harta banyak. Sama suksesnya. Padahal startnya jadi pelaku usaha bersamaan. Keduanya pernah jatuh bangun, di awalnya.


Persis, ibaratnya mereka pada jadi pembalap hebat saat ini. Dulunya ada yang berawal dari belajar dengan sepeda motor kuno butut, ada dengan sepeda motor baru dan mungkin ada yang berawal dari Harley Davidson. Awalnya sama jatuh bangun semua.


Hanya bedanya dengan para profesional yang saya kisahkan di atas. Pada keberanian mengawali, mental bernyali ambil resiko, kepekaan terhadap menangkan peluang usaha, intuisi dan cipta lapangan kerja serta bayar pajak jumlah besar jangka panjang.


Terpenting lagi, tidak kecil hati. Tidak peduli apapun belum punya. Yang penting dimulai. Walaupun wajib harus rendah hati, agar tiada tempat bagi orang congkak yang berniat merendahkan dirinya. Karena hampir pasti dan selalu, pemula pebisnis tempat jadi ejekan. 


Ilmu leadershipnya dari kampus dipraktikkan " tanpa kecil hati " sekalipun staf - stafnya pendidikan formalnya jauh lebih tinggi dari dirinya. Asal kualitas karakter dan kapasitas mumpuni terpercaya. Sekaligus paralel bisa menjaga tumbuh etikanya. Ini sangat penting sekali. Mutlak.


Sehingga hal tidak sulit memimpin banyak orang lebih pintar di bidang teknis darinya. Apalagi jika tempat memimpin di perusahaannya sendiri. Pasti " total loyal terkendali " asal prinsip - prinsipnya leadership dipraktekkan semua. Berjalannya waktu makin skill lagi. 


Ilmu hikmahnya, bahwa jadi pebisnis kata kunci jangan melihat dari berapa banyak modal awal saat memulai bisnis. Tapi seberapa besar nyali berani mengawali dan mumpuni dalam leadership. Dengan begitu, jadi owner perusahaan (pengusaha) tidak perlu sibuk lagi.



Salam 🇮🇩

Wayan Supadno

Pak Tani

HP 081586580630

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)