CEO GROUP | SUBANG — Perjalanan hidup dalam keterbatasan membentuk pandangan Ki Semar Romo Bayu Suryo tentang perjuangan, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut turut mewarnai kegiatan tawasulan dan doa bersama dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Giri Kedaton Nuswantoro, Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada 15–16 Agustus 2026 lalu.
Digelar di lingkungan Masjid At Suparsih dan pendopo Giri Kedaton Nuswantoro, kegiatan tersebut mempertemukan ratusan warga dari berbagai latar belakang agama dan adat. Tokoh agama, tokoh adat, serta masyarakat berkumpul dalam suasana khidmat untuk memanjatkan doa bagi keselamatan, kesatuan, dan persatuan bangsa.
Bagi Romo Bayu, peringatan kemerdekaan memiliki makna yang melampaui upacara dan perayaan. Kemerdekaan merupakan amanah yang perlu dijaga melalui kebersamaan, kepedulian, serta penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan.
“Kemerdekaan Indonesia yang ke-81 tahun. Kita berdoa bersama untuk bangsa kita ini tetap menjadi bangsa yang hakiki, bangsa yang mempunyai marwah dan martabat,” ujar Romo Bayu Suryo.
Doa dipanjatkan bagi arwah para pahlawan yang telah berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Para peserta juga memohon kesehatan, kekuatan, dan keselamatan bagi Presiden Prabowo Subianto serta Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam menjalankan amanah pemerintahan.
Kepedulian turut ditujukan kepada masyarakat yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. Melalui doa bersama tersebut, Romo Bayu berharap mereka diberikan ketabahan, kekuatan, dan kesempatan untuk segera memulihkan kehidupan.
Kegiatan berlangsung sejak siang hingga malam, dengan peserta duduk bersila dalam kebersamaan. Pemberian santunan dan pelaksanaan ritual adat turut menjadi bagian dari acara sebagai wujud kepedulian serta penghormatan terhadap nilai budaya.
Semangat berbagi yang ditekankan Romo Bayu memiliki akar panjang dalam perjalanan hidupnya. Dalam wawancara di kanal RBS TV, ia menggambarkan dirinya sebagai seorang perintis, bukan pewaris. Ia menuturkan telah merantau sejak usia delapan tahun untuk bertahan hidup di Surabaya, sementara pendidikan formalnya terhenti pada kelas lima sekolah dasar.
Untuk mencari penghidupan, ia pernah menjalani pekerjaan sebagai pengamen dan pemulung. Ia juga menceritakan pengalaman tidur di kompleks pemakaman selama lima bulan, menghadapi hari-hari yang penuh ketidakpastian.
Di tengah perjalanan tersebut, Romo Bayu mengenang sosok Mas Ripto yang memberinya pelajaran tentang pentingnya membantu orang lain meskipun diri sendiri masih berada dalam kekurangan. Pengalaman itu membentuk keyakinannya bahwa berbagi tidak harus menunggu hidup serba berkecukupan.
Nilai tersebut menjadi pegangan dalam memperlakukan orang-orang yang datang ke Giri Kedaton Nuswantoro. Ia menekankan pentingnya menghargai setiap tamu, termasuk memperhatikan kebutuhan makan mereka. Kepedulian juga diwujudkan melalui bantuan kepada orang yang mengalami kesulitan, antara lain dengan berbagi sembako.
Romo Bayu mengajak masyarakat untuk ikhlas menghadapi ujian yang diberikan Allah SWT, selalu menghormati dan berbakti kepada orang tua, serta menjaga kerendahan hati ketika memperoleh ilmu maupun harta.
Baginya, keberhasilan tidak seharusnya membuat seseorang melupakan pengalaman hidup maupun orang-orang yang pernah hadir dalam masa sulit. Ilmu dan rezeki yang dimiliki merupakan titipan yang perlu digunakan dengan penuh tanggung jawab serta memberi manfaat bagi sesama.
Kepada generasi muda, ia berpesan agar bekerja dengan hati, tekun berusaha, dan menggunakan strategi dalam mencari nafkah. Kerja keras perlu disertai kemampuan berpikir, membaca peluang, serta menentukan langkah untuk masa depan.
Pengalaman pendidikan formal yang terhenti menjadi latar bagi pesannya agar anak muda tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar. Pendidikan pada jenjang apa pun perlu dimanfaatkan untuk memperluas pengetahuan dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Melalui kisah perjuangan dan kegiatan doa bersama tersebut, Romo Bayu Suryo menyampaikan pesan bahwa ketekunan, kerendahan hati, dan kepedulian dapat berjalan beriringan. Dari pengalaman hidup yang pahit, ia mengajak masyarakat terus berbagi, merawat persatuan, dan menjaga Indonesia sebagai bangsa yang bermarwah serta bermartabat.***
